Wednesday, April 24

Menatapmu




Menatapmu, tiba-tiba ingin kutulis sesuatu. Sebentuk sajak sederhana. Atau surat yang tak harus kau tahu isinya. Semacam riwayat tanpa penanda waktu; kau-aku pernah bertemu.

Satu-satu, kupungut kata. Hati-hati kusematkan pada bidang tanpanama. Tentangmu. Meski nantinya mungkin bukan buatmu. Entahlah. Barangkali memang bukan untuk siapa pun. Untai kata itu; rasanya bahkan angin pun tak perlu tahu.

Benar, tak ada yang terlalu istimewa. Hanya tak ingin menganggap semua sekadar sebagai sia-sia; segala jerit tanpa suara; jejala nasib yang selalu saja rahasia. Atau anggaplah sekadar polah kekanakanku, yang tak bisa biasa menerima segala tentangmu.

Nanti, setelah kata itu lengkap kutata, getar berangsur reda, segera akan kularung ia di arus waktu. Begitu rencanaku.

Kemudian tak perlu ada tanya; ke mana arus itu akan membawa. Lagipula tak akan banyak bedanya; bilakah kelak ia terbenam di lumpur telaga, atau lunglai tersangkut hijau pekat batang padma, atau malah membaur serbuk bunga setepi telaga. Percaya saja; waktu lebih tahu ke mana akan membawanya; di mana mesti menempatkannya


Bogor; 101212

Monday, February 11

Menunggu Hujan Reda



Ingin menguak pintu
matamu selegam malam
mencari jawab sekian tanya
atau barangkali kutemu kembali cerita
yang terserak tinggal keping
berabad lamanya

Ingin susuri lorong-lorong rahasia
di antara kisi-kisi tanpanama;
merasai setiap luka
juga manis yang mungkin sisa

Takdir serupa kelopak bunga
mekar di ringkih pucuk ranting
menabur pelangi, meruahkan wangi
sekejab sebelum ditanggalkan musim;
Wahai, berapa jarak tawa dari luka?

Kini, di sini kita
ditautkan nasib, sama menunggu hujan reda
bertukar tatap sekali dua
merumuskan hasrat yang entah apa

Diam kupandangi seribu batang gerimis
seperti lembing
menghunjam koyak genang
air yang tak lagi bening

Doa terjaga di setiap tetesnya
berharap bukan di mata
rintik itu kan bermuara

 


Bdg, 110213

Monday, December 31

Fragmen (3)


Dalam senyap senja tawar
Dan tembaga langit yang bergetar
Berbisik dahan kepada daun; 
          Tak akan kutahan lagi, meski ingin
          Bertahun memelukmu, kurasa rindumu akan tualang baru
          Telah kutuntaskan setiap janji
          Sedayaku, kugenapi segala yang harus digenapi
          Barangkali kini waktunya bagimu
          Menyusur batas-batas kodratmu 

Daun menjawab dahan; 
          Selalu kunantikan saat seperti ini
          Lerai darimu, saat matamu masih untukku
          Bertahun di pelukmu, kupahamkan makna berbagi dan menyempurnakan
          Aku tahu, semua itu akan membuatku rindu
          Tapi esok adalah hari yang baru lagi
          Embun dan angin masih akan mampir sesekali
          Lagipula kita sama mengerti; hanya soal waktu
          Sebelum aku menjelma tunas baru 

dari langit selatan
burung berarak pulang sarang
lalu bayang berangsur hilang
diregam remang




Jkt, 271212