Sunday, March 30

Fragment #1



Malam. Diam kita sama menapak di aspal mati. Angin tiba. Menyisir
dinding-dinding setepi jalan. Gemetar batang pohon dan daunan.

Inilah kita. Jumpa di tengah kembara; tanpa kompas, tanpa
peta. Tak pasti. Mungkin yang terakhir kali. Sebab nasib berayun di detak
jarum. Sering tak berjarak baris tangis dan ulas senyum.

Jalanan mulai sepi. Bibir pantai tak jauh lagi. Seekor
anjing melintas berburu belulang sisa. Sepasang manusia melintas memburu sisa
cerita.

Di warung tenda, langkah kita terhenti. Menambat lelah di kursi
kayu, lenganmu menyandar di meja beku. Dua pengamen sumbang mengeja lirik lagu.

Memandangmu; memaknai segala yang dipersembahkan waktu. Sedang
remang lampu berkerlip. Berayun pasrah, seperti lelah; berapa kali, sebelum akhirnya
mati?

Kupesan minuman. Sekadar camilan. Kemudian untai kata. Sesekali
gelak tawa. Sesekali larik luka di mata. Ada yang luruh di sini. Mengiring malam
pesat meninggi.



Ujung Hari, 02-0314

Wednesday, January 22

In Solitude #2



Apa lagi hendak dibuktikan
Sesekali di ufuk jauh
Bintang jatuh
Sedang di sebuah pagi
Daun tanggal tanpa mengeluh
Hari-hari punya alirnya sendiri
Sementara mungil hati sering gila tergesa memaknai

Detik yang lalu merangkai nasib
Sedang esok adalah kisah yang lain
Warna dan rupa lain
Larik awan keperakan di langit itu
Adakah tahu ke mana nantinya akan menuju?


Mkw, 200114 - awal hari

Tuesday, December 17

Kali Ini



Kali ini
Hujan menyeruak senyap pagi minggu
Titiknya sebat menyusup sela daunan, melulur membasah dahan
Mengetuki atap, pecah di permukaan jalan;
Serupa merjan
Sebagian lesap dalam sahaja dekap rumputan
Sebagian resap dalam kenang dan ingatan
Mengusik,
Gemerciknya serupa desah
Menyebar segar aroma debu basah
Semata hadir,
Tanpa ketuk pintu. Tanpa salam terlebih dulu
Seperti rindu


(Mkw, 151213)