Monday, July 8

Aku Papua


Betapa sering, identitas diteguhkan dengan memperbedakan. Bagi manusia, ‘memperbedakan’  itu berarti mencari apa yang tak sama antara diri pribadi dengan liyan. Semakin tajam sebuah perbedaan, maka seolah semakin jelas batas antar–subjek ataupun pribadi. Semakin dirasa jelas batas-batas, label dan klasifikasi pun semakin memungkinkan untuk diterakan. Kemudian lahirlah ‘aku’ dan ‘dia’; ‘kita’ dan ‘mereka’. 

Tak bisa dipungkiri, kesadaran bahwa setiap manusia merupakan entitas yang unik, yang tak tertukar-gantikan, telah melahirkan beragam gagasan dan tindakan besar di sepanjang sejarah kehidupan manusia. Penemuan-penemuan hebat, pemikiran-pemikiran brilian, tindakan-tindakan mencengangkan, bahkan perang-perang yang tak terlupakan di hampir setiap sudut zaman sering menjadi akibat yang tak terhindarkan. Peradaban manusia – ternyata – banyak  berkembang sebagai buah yang lahir dari semangat untuk meneguhkan identitas dan upaya pembedaan ini.

Thursday, June 20

Juni, Kali Ini




Juni, kali ini, ingin kucatat apa yang kurasa selayaknya tercatat. Memerangkap apa yang  berlintasan di hati. Atau sekadar menandai sebuah masa yang kuanggap punya arti.
Inilah hari-hari yang lengang. Saat detik berlalu dalam kesadaran untuk selekasnya meninggalkan. Segala yang berharga itu, mesti mulai direlakan. Perlahan ia akan mengabur, menjadi sekadar penggalan cerita pada suatu masa - sesuatu yang pernah  ada, namun tak lagi bersama kita.
Tak akan sepenuhnya musnah, pasti. Sebab kenang dan kesan memiliki geraknya sendiri; sering hanya sejenak pergi untuk sewaktu-waktu kembali. Di benak, di hati, segala yang berharga itu akan selalu memiliki ruang tersendiri.
Inilah hari-hari yang asing. Saat segalanya mulai menunjukkan wajah murninya; bagaimanapun, tak pernah ada yang benar-benar menjadi milik kita. Ada waktunya, ia  hadir di sini, sejenak mengisi relung yang entah mana, dalam rupa yang entah apa, namun pasti tak akan selamanya. Dengan begitu hidup bergulir. Cerita jadi tersambung dalam rangkaian yang menjanjikan sebuah akhir yang tak sepenuhnya terduga. Dan karenanya jadi berharga dijalani.
Kita adalah pejalan malam. Tertatih digayuti beban dan luka zaman. Menyusup lengang dengan gugup, kadang gamang. Bergelut memupus takut pada pada setiap kelokan. Berusaha menumbuhkan penghargaan pada setiap tapak jalan; darinya kita belajar jadi dewasa.
Wajah-wajah, nama-nama. Bebatuan, rumput dan bunga-bunga. Pada segala yang selama ini menjadi pelengkap hidup, pada mereka yang selama ini menjadi kawan bergelut; terima kasih.
Esok adalah hari yang lain. Dengan nama, cerita, juga riak warna yang lain. Melepaskan untuk mendapatkan, merelakan untuk menemukan. Sambil tak henti membatin kita, “Tak pernah ada yang sia-sia. Selalu tersedia arti dari setiap serpih yang ada..

Bdg, 200613- Awal hari

Friday, May 31

Batas




Selalu ada sebuah titik di mana setelah kita sampai padanya, segalanya jadi tak lagi sama. Sebuah garis yang menjadi pemisah antara dua atau lebih hal yang berbeda, hal-hal yang kadang bahkan begitu bertentangan, baik dalam rupa, rasa, suasana, atau apapun. Sebuah Patahan. Sebuah Tepi. Sebuah Batas.

Sebagai sebuah pengertian, batas ataupun tepi ini membawa kita pada pemahaman bahwa fana adalah sebuah keniscayaan dalam hidup. Bahwa betapapun tampak sempurna, segala yang ada di dunia selalu memendam keterbatasan. Bahwa selalu ada yang membuat sesuatu jadi tak utuh. Bahwa tak ada yang abadi. Bahwa setiap hal memiliki waktunya masing-masing. Dan pada muaranya mestinya melahirkan pengakuan; memang tak pernah ada yang benar-benar mutlak selain Dia.

Pengetahuan akan keterbatasan pada semua yang ada dalam hidup ini mengusik, memunculkan banyak tafsir, yang kemudian berujung pada beragamnya reaksi dalam penyikapan. Ia rentan melahirkan rasa tak tentram.